Senin, 20 Juli 2009

Berpetualang ke Pulau Madura

Sekedar untuk mencoba jembatan Suramadu membawa kami berdua mengalami petualangan seru. Dari jauh sudah terlihat megahnya jembatan Suramadu. Kagum. Semakin dejat semakin terasa kemegahannya. Bentuk arsitektur jembatannya sangat bagus sekali. Lurus lalu pada bagian tengah mulai menanjak keatas lalu menurun dan lurus lagi. Adanya banyak kehilangan mur di jembatan ini tidak menghalangi niatku untuk melewatinya. Dengan tiket seharga 3.000 rupiah untuk sepeda motor kita bisa melewati jembatan. Mobil 30.000.
Berpetualang dengan temanku yang satu ini, Paul membuat lidah tak hentinya tertawa. Bayangkan selama di atas Suramadu dia menyapa orang-orang yang bekerja di bawah jembatan, “Pak lek, pak lek”, panggilnya. Orang-orang tersebut menanggapinya dengan melambaikan tangan. Tambah bikin ketawa lagi. Lantas aku bilang pada Paul, “Ojo ngisin-ngisini ta...”
“Jeh, orang Indonesia itu terkenal karena keramahannya, jadi kita harus menyapa dan tersenyum.” Jawab Paul.
“Iyo Ul, tapi suwe-suwe kon jadi gendeng.” Timpalku. Tapi aku setuju juga dengan pendapat Paul.


Saat jalan menurun. Mesin sepeda kami dimatikan untuk hemat-hemat bensin gitu. Pas jalan da lurus mesin dinyalakan lagi.


Sampailah kami di Pulau Madura.
Di ujung Madura masih belum sebagus di ujung Surabaya. Masih belum terpasang lampu-lampu jalan. Bayangkan bila malam hari, bakal gelap gulita. Kami mengendarai sepeda motor dengan pelan-pelan, menikmati pemandangan alam sekitar, ada banyak orang berjualan makanan. Sawah, kebun masih terhampar luas. Terus dan terus sampai kami menemukan persimpangan jalan bila ke kiri menuju Labang. Kami tetap terus sampai menemukan persimpangan yang kedua. Kami memutuskan belok ke kiri, terus dan terus lalu ada belokkan ke kanan kita terus lagi sampai ada pertigaan, bila ke kiri menuju Kamal, k’lo terus menuju Bangkalan. Kita mencoba ke kiri tapi ga berapa lama kita balik lagi cos terasa jauh dan yang terlihat cuma sawah. Akhirnya kita ke arah Bangkalan. Inilah kota Bangkalan, tidak terlalu mewah seperti Surabaya. Gaya arsitektur kota ini menurutku hampir sama seperti kota Jogja dan Malang, sederhana. Kita mencoba mensusuri jalan di kota Bangkalan. Sampai kita akhirnya menemukan sebuah Gereja Katolik keuskupan karmel Malang kalau tidak salah. Kita penasaraan, akhirnya kita putar balik untuk memasuki Gereja itu. Apesnya kita ga tau kalau di jalan itu dilarang putar balik dan Pak Polisi udah siap-siap nilang kita. Tapi untungnya Paul berlagak bego, jadi akhirnya ya ga jadi ditilang.Jadi karena udah terlanjur malu akhirnya kita ga jadi ke Gereja itu. Kita lanjutin jalan-jalannya. Muter-muter aja, pokoknya kotanya itu kecil, jadi kita selalu menemukan jalan yang sama. Kita juga sempat dimintai uang sama bocah SD, tapi karena wajah Paul kayak Setan kecebur Got, ya bocah SD itu malah takut. Ternyata tidak hanya kita yang dimintai, orang-orang di sekitar situ juga dimintai uang, ternyata di pengemis kawan. Kita lanjutkan perjalanan, sampai akhirnya kita menemukan Museum, tapi kok sepi banget saat kita mencoba masuk area museum, akhirnya dengan lagak kayak orang bego kita balik ga kadi ke museum, tapi karena orang-orang di museum itu melihat kita, kita dipanggil-panggil, eh Paulnya malah ketakutan, padahal udah kusuruh berhenti. Tapi ga selang berapa lama kita putuskan untuk balik ke Museum itu, dan memang sepi ternyata, kita pengunjung pertama di hari itu. Dikenakan biaya Rp 1000 untujk masuk. Ternyata orang madura tidak semenakutkan yang kita duga, ramah kok. Paul aja sampai terlibat pembicaraan seru tentang Sejarah Museum yang bernama Cakraningrat itu. Aku juga ga tau darimana ia dapat pengetahuan sejarah yang begitu mendetail, aku aja da lupa. Aku berkeliling, kecil museumnya. Ada miniatur rumah Madura, senjata khas Madura, peralatan Nelayan, Gamelan, perabotan kerajaan, foto-foto.



Paul disini hampir membikin masalah lagi. Tombak yang ga boleh di ambil malah diambil dari tempatnya lalu dimain-mainin dan teng..tang..tang...., ujung tombak itu terlepas, untun penjaga museumnya ga terlalu fokus jadi ga ketahuan. Setelah itu atas rekomendasi dari penjaga museum itu kita pergi ke Mercusuar. Cukup jauh letaknya, melewati rawa-rawa. Hampir sampai ternyata ada tiket masuk area, dan yang menjaga nenek2 tua yang gaya bicaranya aku ga paham sekali dan duduk agak tersembunyi sampai kita melewatinya sebelum akhirnya dipanggil u tuk membayar Rp 2000. Masuk ke Mercusuarnya sendiri dikenakan Rp 6000 buat dua orang sekaligus buat parkir.






Tinggi juga mercusuarnya. Paul malah kencing di dalam mercusuar, kemproh banget. Dari Mercusuar kita banyak sekali melihat muda-mudi kencan, malah ada yang di dalam Mercusuar. Sampai di atas, merinding banget waktu liat kebawah. Pas turunnnya rasanya lebih cepat daripada waktu naik. Total ada 17 lantai di Mercusuar tersebut. Ya begitulah Petualangan di Pulau Madura... Setelah itu kita beristirahat sejenak trus pulang menuju Surabaya. Pas di Jembatan Suramadu banyak orang foto-foto, tapi hpq lowbat ya ga jadi deh, eman. Tapi cukup menyenangkan lah...





Tidak ada komentar: