Sabtu, 28 Mei 2011

Dirimu adalah Statusmu

Barusan saya menemukan sebuah opini yang menarik www.wikimu.com 
Begini opininya :


Baru Bangun...

Mau mandi ….

Sarapan lauk tempe...

Pernahkah Anda melihat status FB atau twitter seperti diatas. Hal-hal sepele, remeh-temeh, ditampilkan di jejaring sosial. Apakah hal semacam ini normal? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kajian kejiwaan. Tulisan ini sepenuhnya mengupas pertanyaan tersebut menurut pendapat penulis, karena penulis belum sempat mencari literatur yang sesuai.
Seorang filsuf mengatakan: You are what you think. Dirimu adalah apa yang kamu pikirkan. Ada juga yang mengatakan: Your are what you repeatly do. Dirimu adalah apa yang sering kamu lakukan. Ada juga pepatah yang mengatakan: mulutmu adalah harimaumu. Kata-kata bijak dan pepatah ini ingin mengingatkan kita bahwa apa yang kita katakan, pikirkan atau lakukan adalah cerminan diri kita.
Nah, sekarang ada jejaring sosial. Maka rumusan di atas bisa diturunkan bahwa apa yang kita tulis sebagai status, apa yang kita tulis sebagai komentar dan apa yang kita upload ke jejaring sosial merupakan cerminan dari diri kita sendiri.
Sehari sebelum tulisan ini dibuat, saya mengikuti seminar dengan pembicara Desi Ramadhani, SJ. Ia adalah seorang pastur, seorang dosen, yang mendampingi kehidupan calon pastur di Jakarta. Romo Desi melihat bahwa kedalaman kehidupan dan pemikiran seseorang bisa dibaca dari status-status yang ia tulis di akun jejaring sosialnya.
Jadi jika seseorang setiap setengah jam menulis status seperti pembuka tulisan ini, bisa diduga bahwa ia tidak memiliki kedalaman kehidupan dan kedalaman pemikiran. Gagasan ini sangat sulit saya analisa, karena butuh literatur. Namun saya ingin mengatakan bahwa bila seseorang memiliki banyak status yang remeh-temeh, bisa diduga bahwa kehidupan orang tersebut juga baru pada tahap remeh temeh. Bisa diduga bahwa pemahamannya atas kehidupan baru sampai pada tahap kulit terluar. Pengetahuannya juga terbatas dan ia tidak memiliki keinginan untuk memperkaya pemahamannya atas kehidupan.
Mengapa orang tersebut melakukan hal ini. Saya menduga orang-orang seperti itu sebenarnya bermental selebritis. Artinya popularitas merupakan ukuran yang ia pakai pada dirinya. Maka ia pun mencari teman yang banyak dengan harapan semakin banyak pula komentar pada statusnya. Orang-orang seperti ini membuat status yang bersifat insidental, apa yang ada saat itu adalah apa yang ia tulis. Maka statusnya pun tidak konsisten. Saat ini sedih, setengah jam lagi gembira.
Ada yang menulis status di jejaring sosial sebagai buah pemikirannya. Mungkin orang itu sedang membaca suatu bacaan yang menarik, dan ia menemukan kalimat yang bagus. Kalimat tersebut kemudian di tuliskan sebagai statusnya. Maka status tersebut merupakan buah dari pemikiran orang tersebut. Ia setuju dengan gagasan yang ada pada kalimat status itu. Bagi orang seperti ini, status di jejaring sosial mencerminkan dirinya. Maka jika statusnya tiba-tiba berisi umpatan, bisa dipastikan ia mengalami sebuah kekesalan, kekecewaan, yang luar biasa. Orang seperti ini lebih hati-hati dalam memilih kalimat sebagai status. Dan ia jarang memperbaharui statusnya dalam hitungan menit.
Ada orang yang amat jarang menulis status dan berkomentar. Bukan karena ia tak mampu dan tak sempat mengakses jejaring sosial. Orang tersebut memiliki akun jejaring, sering dibuka, dan memang memilih untuk bersifat pasif, menjadi penonton saja. Orang seperti ini mungkin enggan mengemukakan gagasan yang ia miliki. Bisa jadi ia justru mentertawakan orang-orang yang membuat status yang aneh-aneh, yang kekanak-kanakan.
Dan ada juga orang yang senang berkomentar. Siapa pun teman yang muncul di layar jejaring sosialnya, ia komentari. Saya rasa orang tipe ini lebih banyak berkomentar negatif dari pada komentar positif. Mungkin ia sedang menunjukkan superioritasnya dengan merendahkan orang lain.
Masih ada banyak tipe lain yang bisa disebut jika kita melakukan pengamatan secara lebih detail. Saya rasa tiap tipe pengakses jejaring sosial ini memiliki hubungan dengan kepribadian dan sifat sosial yang ia miliki. Jadi, jika Anda ingin dinilai lebih positif oleh orang lain, hati-hatilah dalam menulis status.

Penulis : Wawan

Tidak ada komentar: